MAKALAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Tentang
“
MAKNA ISLAM DAN APLIKASINYA DALAM KEHIDUPAN “
Dosen Pembimbing : Darul Qutni
Idham Kholid
Disusun Oleh :
Sedyaning Tyas Widowati
(7101413422)
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013/2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang masalah
Islam
adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-rasul-Nya untuk diajarkankan
kepada manusia. Dibawa secara berantai (estafet) dari satu generasike generasi
selanjutnya, dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Islam adalahrahmat,
hidayat, dan petunjuk bagi manusia dan merupakan manifestasi dari sifat rahman
dan rahim Allah swt.
Mayoritas
manusia di bumi ini memeluk agama islam. Banyak juga yang memilih menjadi
mualaf setelah mengetahui semua kebenaran ajaran nabi Muhammad SAW. Ini yang
tercantum dalam al-Quran. Namun di masa kejayaan islam pada masa
sekarang,semakin banyak pulaorang-orang yang beragama islam, tapi tidak
mengerti arti islam itu sendiri. Mereka hanya menjalankan syari‟ah atau
ajaran-ajaran islam tanpa mengerti makna islam. Ada juga orang yang islam KTP
atau islam hanya sebagai menyempurnakan KTP dari pada tak tercantum agamanya.
Oleh karena itu di makalah ini akan dibahas mengenai apa arti islam. Serta akan
membahas aplikasi islam pada kehidupan, khususnya di zaman
modern ini.
modern ini.
1.2 Rumusan masalah
- Apakah arti dan makna
islam?
- Bagaimana aplikasi islam dalam kehidupan
(modern)?
1.3
Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan:
-
Memberi pengetahuan tentang islam kepada
pembaca
-
Mempertebal keimanan dan ketakwaan
kepada Allah SWT
-
Agar kita dapat mengaplikasikan islam
dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Makna
islam
Secara
etimologis
(asal-usul kata, lughawi) kata
“Islam” berasal dari bahasa Arab: salima
yang artinya selamat. Dari kata itu terbentuk aslama yang artinya menyerahkan diri atau tunduk dan patuh.
Sebagaimana firman Allah SWT,
“Bahkan, barangsiapa aslama
(menyerahkan diri) kepada Allah, sedang ia berbuat kebaikan, maka baginya
pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
pula bersedih hati” (Q.S.
2:112).
Dari kata aslama itulah terbentuk kata Islam. Pemeluknya disebut Muslim.
Orang yang memeluk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah dan siap patuh
pada ajaran-Nya
Hal senada dikemukakan Hammudah
Abdalati. Menurutnya, kata “Islam” berasal dari akar kata Arab, SLM (Sin, Lam, Mim) yang berarti kedamaian, kesucian, penyerahan
diri, dan ketundukkan. Dalam pengertian religius, menurut Abdalati, Islam
berarti "penyerahan diri kepada kehendak Tuhan dan ketundukkan atas
hukum-Nya" (Submission to the
Will of God and obedience to His Law).
Hubungan
antara pengertian asli dan pengertian religius dari kata Islam adalah erat dan
jelas. Hanya melalui penyerahan diri kepada kehendak Allah SWT dan ketundukkan
atas hukum-Nya, maka seseorang dapat mencapai kedamaian sejati dan menikmati
kesucian abadi.
Ada juga pendapat, akar kata yang membentuk kata “Islam” setidaknya ada empat
yang berkaitan satu sama lain.
1. Aslama. Artinya menyerahkan diri. Orang
yang masuk Islam berarti menyerahkan diri kepada Allah SWT. Ia siap mematuhi
ajaran-Nya.
2. Salima. Artinya selamat. Orang yang
memeluk Islam, hidupnya akan selamat.
3. Sallama. Artinya menyelamatkan orang lain.
Seorang pemeluk Islam tidak hanya menyelematkan diri sendiri, tetapi juga harus
menyelamatkan orang lain (tugas dakwah atau ‘amar ma’ruf nahyi munkar).
4. Salam. Aman, damai, sentosa. Kehidupan
yang damai sentosa akan tercipta jika pemeluk Islam melaksanakan asalama dan sallama.
Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam
adalah agama wahyu berintikan tauhid
atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw
sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun
dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Cukup
banyak ahli dan ulama yang berusaha merumuskan definisi Islam secara
terminologis. KH Endang Saifuddin Anshari mengemukakan, setelah mempelajari
sejumlah rumusan tentang agama Islam, lalu menganalisisnya, ia merumuskan dan
menyimpulkan bahwa agama Islam adalah:
1.
Wahyu
yang diurunkan oleh Allah SWT kepada Rasul-Nya untuk disampaikan kepada segenap
umat manusia sepanjang masa dan setiap persada.
2. Suatu sistem keyakinan dan
tata-ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan asasi manusia
dalam pelbagai hubungan: dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lainnya.
3. Bertujuan: keridhaan Allah, rahmat
bagi segenap alam, kebahagiaan di dunia dan akhirat.
4. Pada
garis besarnya terdiri atas akidah, syariatm dan akhlak.
5. Bersumberkan
Kitab Suci Al-Quran yang merupakan kodifikasi wahyu Allah SWT sebagai
penyempurna wahyu-wahyu sebelumnya yang ditafsirkan oleh Sunnah Rasulullah Saw.
B. Islam dalam kehidupan masyarakat
(modern)
Hubungan
religiusitas dan modernisasi (industrialisasi) merupakan persoalan rumit yang
banyak menimbulkan kontroversi, khususnya di kalangan ilmuwan sosial. Suatu
ungkapan yang hampir menjadi stereotip dalam percakapan sehari-hari
menggambarkan seolah-olah agama merupakan hambatan terhadap proses modernisasi
dan industrialisasi. Meskipun pada beberapa kasus mungkin asumsi itu benar,
misalnya ada agama yang menentang program Keluarga Berencana (KB) padahal
menurut para ahli mutlak diperlukan di negara-negara berkembang. Tetapi
generalisasi bahwa agama merupakan rintangan modernisasi dan industrialisasi
tidak dapat dibenarkan.
Dengan adanya
hubungan yang dinamis antara agama dan modernitas, maka diperlukan upaya untuk
menyeimbangkan pemahaman orang terhadap agama dan modernitas. Pemahaman orang
terhadap agama akan melahirkan sikap keimananan dan ketaqwaan (Imtaq), sedang
penguasaan orang terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) di era
modernisasi dan industrialisasi mutlak diperlukan. Dengan demikian sesungguhnya
yang diperlukan di era modern ini tidak lain adalah penguasaan terhadap Imtaq
dan Iptek sekaligus. Salah satu usaha untuk merealisasikan pemahaman Imtaq dan
penguasaan Iptek sekaligus adalah melalui jalur pendidikan. Dalam konteks
inilah pendidikan sebagai sebuah sistem harus didesain sedemikian rupa guna
memproduk manusia yang seutuhnya. Yakni manusia yang tidak hanya menguasai
Iptek melainkan juga mampu memahami ajaran agama sekaligus mengimplementasikan
dalam kehidupan sehari-hari.
v Peran
Agama dalam Masyarakat Modern
Peran agama di dalam perkembangan masyarakat: (1) agama
sebagai motivator, agama di sini adalah sebagai penyemangat seseorang maupun
kelompok dalam mencapai cita-citanya di dalam seluruh aspek kehidupan. (2)
agama sebagai creator dan inovator, mendorong semangat untuk bekerja kreatif
dan produktif untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik dan kehidupan
akhirat yang lebih baik pula. (3) agama sebagai integrator, di sini agama
sebagai yang mengintegrasikan dan menyerasikan segenap aktivitas manusia, baik
sebagai orang-seorang maupun sebagai anggota masyarakat. (4) agama sebagai
sublimator, masksudnya adalah agama sebagai mengadukan dan mengkuduskan segala
perbuatan manusia. (5) Agama sebagai sumber inspirasi budaya bangsa, khususnya
Indonesia.
v Peran Iman
dan Takwa dalam Menjawab Problema dan Tantangan Kehidupan Modern
·
Iman melenyapkan kepercayaan pada kekuasaan benda
·
Iman menanamkan semangat berani menghadapi maut
·
Iman menanamkan sikap self help dalam kehidupan
·
Iman memberikan ketenangan jiwa
·
Iman memberikan kehidupan yang baik
·
Iman melahirkan sikap ikhlas dan konsekuen
·
Iman memberikan keberuntungan
·
Iman mencegah penyakit
v Perubahan Kehidupan Masyarakat Islam Indonesia
Akibat Modernisasi
·
Perubahan
masyarakat Islam Indonesia yang positif
- Ilmu pengetahuan dalam kehidupan masyarakat semakin
mendukung perkembangan dunia Islam. Masyarakat Islam tidak hanya mengetahui
ilmu agam tetapi juga mengetahui ilmu umum
- Dengan adanya modernisasi umat Islam mampu mengaplikasikan
ajaran Islam dala konsep ilmu umum.
- Dengan adanya teknologi sebagai salah satu produk
modernisasi, masyarakat islam Indonesia bisa dengan mudah memperluas dakwahnya
lewat media dan juga memperluas jaringannya.
·
·
Perubahan masyarakat Islam Indonesia yang negatif
- Moralitas semakin menurun
- Ketergantungan terhadap teknologi
- Lebih mengutamakan duniawi dari pda ukhrowi
- Hubungan silaturrahni secar face to face manurun
BAB III
PENUTUP
v Kesimpulan :
Peran agama pada masa modern dirasakan
masih sangat penting, bahkan menunjukkan gejala peningkatan. Fenomena
kebangkitan agama di antaranya dapat diamati dari maraknya kegiatan-kegiatan
keagamaan dan larisnya buku-buku agama. Fenomena ini setidaknya dipengaruhi
oleh beberapa hal seperti adanya kesadaran providensi setiap individu, ketidakberhasilan
modernisasi dan industrialisasi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih bermakna.
Di samping itu, kegagalan organized religions dalam mewujudkan agama yang
bercorak humanistik, juga disinyalir turut mendorong praktik spiritualitas era
modern.
Agama
tetap akan memegang peranan penting di masa mendatang, terutama dalam
memberikan landasan moral bagi perkembangan sains dan teknologi. Dalam kaitan
ini perlu ditekankan pentingnya usaha mengharmoniskan ilmu pengetahuan dan
teknologi (Iptek) dengan agama (Imtaq). Iptek harus selalu dilandasi oleh
nilai-nilai moral-agama agara tidak bersifat destruktif terhadap nilai-nilai
kemanusiaan (dehumanisasi). Sedangkan ajaran agama harus didekatkan dengan
konteks modernitas, sehingga dapat bersifat kompatibel dengan segala waktu dan
tempat.
Pada dasarnya dalam kehidupan modern, kita sebagai manusia tidak bisa terlepas
dari iman dan taqwa. Karena dengan kita beriman dan bertaqwa, kita dapat
mencegah dan menyelamatkan diri dari hal-hal yang menyesatkan atau dari segala
sesuatu yang tidak baik. Selain itu, kita juga dapat menentukan apakah
modernisasi tersebut dianggap sebagai suatu kemajuan atau tidak, dipandang
bermanfaat atau tidak, diperlukan atau sebaliknya perlu dihindari.
Daftar
pustaka

Tidak ada komentar:
Posting Komentar